Saat Lanjut Usia, Saat Bahagia di Hari Tua

20 Feb 2017

“Saat aku lanjut usia, saat ragaku terasa tua, tetaplah kau selalu disini, menemani aku bernyanyi. Saat rambutku mulai rontok, yakinlah ku tetap setia, memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas…”

Apa yang saya kutip tersebut adalah penggalan lirik lagu “Saat Aku Lanjut Usia” yang dinyanyikan oleh Sheila On 7. Lagu lama, namun tetap relevan untuk dinyanyikan setiap masa. Sebuah harapan kelak di hari tua, keinginan untuk selalu bersama, saling setia, bahagia melawati senja bersama pasangan. Indah, bukan? Ya, begitulah, kelak bila sudah tiba masanya setiap orang pasti akan masuk usia senja, dimana raga tak lagi sekuat masa muda, dan terkadang butuh bantuan orang lain untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup.
 
Kalau boleh berandai-andai, saya kelak juga ingin bahagia di hari tua, maksudnya adalah bisa menikmati masa tua tanpa harus berfikir tentang pemenuhan kebutuhan, tidak harus bergantung pada keluarga atau orang lain. Bukan hal yang mustahil untuk mewujudkan semua keinginan, semua ada jalan selama ada niat dan kemauan. Menurut saya, ada tiga hal pokok yang bisa dijadikan modal untuk mengarungi hari tua agar bisa terwujud kebahagiaan di hari tua:
 

Menikah

 
Menikah adalah salah satu tahapan yang dilewati dalam siklus kehidupan. Laki-laki ditakdirkan untuk perempuan, demikian juga sebaliknya, makanya dalam tahapan penyatuan dua hati “ritual” yang harus dilakukan adalah pernikahan. Dengan ikatan pernikahan sepasang anak manusia disatukan hingga maut memisahkan, inilah konteks jodoh yang banyak dibicarakan orang. Untuk dapat melanjutkan silsilah keluarga tentu saja butuh keturunan yang akan meneruskan cerita masa depan, maka dengan pernikahan inilah hal ini bisa terwujud. Ada jalan lain yang bisa diambil bagi mereka yang belum memiliki keturunan maupun yang belum punya pasangan, yaitu dengan mengadopsi anak. Kelak, saat usia sudah mulai renta, pasangan kita lah yang akan menjadi teman setia, pengisi sepi, teman bahagia.
 
Bahagia di Hari Tua. Photoright: Peggy und Marco Lachmann-Anke / pixabay.com
 
Sebagian orang pasti pernah terlintas dalam angan mereka mengenai nasib mereka dihari tua kelak. Ya, disadari atau tidak, karena semua orang pasti akan menjadi tua, dan dalam siklus kehidupan semua berlaku sama. Harapan terbesar sebagai orang tua adalah kelak anak-anak mereka lah yang akan menjadi tempat bersandar, dengan cucu-cucu yang lucu, merawat bila sudah tiba waktu tak mampu berbuat banyak dalam menjalani hidup. Walaupun saya pribadi berharap kelak tidak merepotkan siapapun, termasuk anak atau keluarga, tapi tidak tahu bagaimana garis kehidupan kedepan.
 
Jadi, logis bila untuk mewujudkan semua itu pernikahan adalah jalan yang tepat, lalu berharap memiliki anak.  Dan saya bersyukur sudah melewati tahapan ini: menikah dan punya anak.
 

Menabung

 
Tidak dimungkiri bahwa setiap kebutuhan dalam hidup selalu berkaitan erat dengan yang namanya uang. Mulai bayi hingga orang tua memerlukan uang demi tercukupinya kebutuhan hidup. Wajar bila menabung adalah cara paling mudah untuk dapat mempersiapkan keuangan dengan baik. Apalagi bagi mereka yang memiliki penghasilan yang pas-pasan, kalau tidak dipaksakan untuk menabung bisa jadi kelak akan merasa kesulitan keuangan.
 
Menabung hanyalah sebuah cara, tanpa bermaksud mengikngkari rejeki yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, tapi bagian dari usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dengan menabung.
 
Ada banyak cara untuk menabung, yang paling umum digunakan adalah menabung di bank. Dalam konteks yang lain, menabung juga bisa dikaitkan dengan investasi, bisa tanah, rumah, emas, atau yang lainnya. Intinya menyimpan uang untuk berjaga-jaga atau demi memenuhi kebutuhan kelak dihari tua. Sedikit demi sedikit saya juga mulai melakukan ini, mempersiapkan hari tua sebaik mungkin.
 

Jaga diri baik-baik

 
Menjaga kesehatan adalah hal yang penting untuk dilakukan, selain kehati-hatian dalam setiap aktivitas guna menjaga agar terhindar dari hal buruk yang merugikan. Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berharga, uang banyak tidak ada gunanya bila orang sudah jatuh sakit. Memang benar dengan uang bisa pergi berobat, tapi kalau sakit tak kunjung sembuh, bisa jadi uang yang sangat banyak akan habis juga untuk berobat. Oleh sebab itu, menjaga diri baik-baik merupakan hal logis agar kelak bisa menikmati masa tua tanpa ada gangguan sakit, karena sekarang dengan mudahnya menemukan orang yang menikmati masa tua dengan menahan sakit. Jangan sampai ini terjadi pada saya.
 
Dari ketiga hal pokok diatas, ada satu program yang bisa meng-cover poin dua dan tiga, BPJS Ketenagakerjaan nama programnya. Apa itu BPJS Ketenagakerjaan? Kepanjangan dari BPJS Ketenagakerjaan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, sebuah program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraan nya menggunakan mekanisme asuransi sosial.
 
Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan
 
Apakah saya sudah ikut bergabung? Ya, saya adalah peserta BPJS Ketenagakerjaan!. Belum lama saya menjadi peserta, belum genap setahun. Semua berawal dari kebijakan ditempat saya bekerja, dimana semua karyawan harus memiliki “penjamin” berupa asuransi. Maka, suatu hari saat ada rapat koordinasi didatangkan petugas dari BPJS Ketenagakerjaan Purbalingga, dari sinilah, dari pemaparan petugas, saya mulai memahami ternyata BPJS Ketenagakerjaan bukan hanya sekedar jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian saja, tapi ternyata juga bisa dipergunakan untuk merencanakan masa tua.

Program dari BPJS Ketenagakerjaan ada beberapa, yaitu: Program Jaminan Hari Tua (JHT), Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Program Jaminan Kematian (JKM) dan Program Jaminan Pensiun. Nah, ternyata menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan bisa untuk merencanakan masa tua, mewujudkan keinginan untuk bahagia di hari tua, hal ini tak lepas dari adanya jaminan hari tua (JHT) dan program jaminan pensiun. Kok bisa? Ya, bisa.

Jaminan hari tua kepesertaannya bersifat wajib sesuai penahapan kepesertaan. Ada banyak manfaatnya, yaitu berupa uang tunai yang  besarnya merupakan nilai akumulasi iuran ditambah hasil pengembangannya, yang dibayarkan secara sekaligus apabila peserta mencapai usia 56 tahun, peserta meninggal dunia, atau peserta mengalami cacat total tetap. 1)

Jaminan pensiun adalah jaminan sosial yang bertujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Manfaat pensiun adalah sejumlah uang yang dibayarkan setiap bulan kepada peserta yang memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau kepada ahli waris bagi peserta yang meninggal dunia. 2)

Nah, jelas kiranya keterkaitan antara BPJS Ketenagakerjaan dengan jaminan hari tua dan jaminan pensiun yang memungkinkan untuk menjadikan masa tua menjadi masa yang bahagia. Menarik, kan? Tak perlu ragu untuk ikut menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, karena banyak manfaat yang bisa diperoleh, hingga untuk hari tua pun sudah bisa direncanakan sejak dini.

Jangan bayangkan yang sulit-sulit, bila masih kurang lengkap apa yang saya tuliskan bisa mencari referensi lain di blog atau website BPJS Ketenagakerjaan. Kelak semua orang akan menjadi tua, cepat atau lambat. Bila saat ini belum terfikirkan rencana-rencana dalam “persiapan” menghadapi hari tua, mulai dari sekarang harus sudah kita rancang. Pasrah itu baik, tapi lebih baik lagi jika kita berusaha untuk mempersiapkan masa tua yang bahagia, lalu pasrah dengan “imbalan” usaha yang sudah kita lakukan semenjak dini. Jadi, mari sama-sama menyambut masa tua yang bahagia.

Catatan kaki:

1) Sumber: http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/page/program/Program-Jaminan-Hari-Tua-(JHT).html
2) Sumber: http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/page/program/Program-Jaminan-Pensiun.html


TAGS lifestyle pensiun BPJS Ketenagakerjaan


-

Author

Follow Me